Menu

Thursday, July 8, 2021

Peranan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Tingkat Kemiskinan {Literature Review)

 I.    Pendahuluan

Penurunan tingkat kemiskinan telah menjadi isu penting bagi setiap negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Masalah penurunan kemiskinan ini semakin mendapatkan perhatian dunia setelah organisasi internasional - Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), mengadakan World Summit pada September 2000 dan merumuskan Millenium Development Goals (MDGs) 2015. Pengentasan kemiskinan menjadi salah satu dari delapan tujuan yang tercantum dalam MDGs , yaitu pada tahun 2015 tingkat kemiskinan dan kelaparan diharapkan akan turun sebanyak 50 persen.

Tujuan dari literatur ini adalah untuk melihat bagaimana hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan.

II.   Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan diberbagai Negara

Pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan tingkat kemiskinan masih sering menjadi perdebatan. Dalam teori neo-klasik, negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan mampu untuk mengurangi kemiskinan lebih cepat, jika manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut juga didistribusikan kepada masyarakat miskin. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi akan menurunkan tingkat kemiskinan. Namun beberapa hasil studi menunjukkan hal yang berbeda. Meskipun suatu negara mengalami pertumbuhan pendapatan, namun tingkat kemiskinannya tidak menurun atau meski pertumbuhan ekonominya pesat, namun tingkat kemiskinannya tetap tinggi. Seperti yang diungkapkan oleh (Vora-sittha, 2012), di negara Thailand tingkat pertumbuhan PDB secara statistik tidak signifikan dalam mengurangi kemiskinan yang diukur dengan rasio jumlah tenaga kerja. Dengan menggunakan korelasi Pearson selama periode 1996-2009, pertumbuhan ekonomi, ketimpangan pendapatan dan tingkat kemiskinan, tidak saling berkorelasi. Hasil ini berbeda dengan studi sebelumnya.  Dengan menggunakan data dari tahun 1986-2003, (Warr, 2004) menyatakan bahwa ada dua hal penting dalam penurunan kemiskinan yang berkelanjutan di negara Thailand, yaitu memulihkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kapasitas pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin. Bukti dari Thailand menunjukkan bahwa yang menjadi faktor penentu dari penurunan kemiskinan adalah tingkat pertumbuhan agregat, baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek.

Mengapa muncul perbedaan seperti ini? Faktor yang paling penting dalam melihat masalah kemiskinan adalah mengenai pengukuran kemiskinan. (Iceland, 2011) menggunakan dua konsep kemiskinan, yaitu kemiskinan absolut dan relatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan mempengaruhi sebagian besar tren dalam kemiskinan absolut. Mayoritas penurunan yang tinggi dalam kemiskinan absolut selama periode 1949-1969 di Amerika Serikat disebabkan oleh adanaya pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh yang lebih kecil untuk kemiskinan relatif, jika dibandingkan dengan kemiskinan absolut. Sedangkan menurut (Kraay, 2006) dalam jangka menengah hingga jangka panjang, pertumbuhan rata-rata pendapatan menjadi faktor dominan dalam penurunan kemiskinan diberbagai negara. Pertumbuhan rata-rata pendapatan mempunyai pengaruh yang besar baik untuk kemiskinan absolut maupun relatif.

Masalah lain yang dapat mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan kemiskinan adalah kesenajngan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan mampu menurunkan tingkat kemiskinan di desa dan di kota jika tingkat kesenjangan dan kemiskinan tidak terlalu tinggi (Janvry & Sadoulet, 1999). Masalah kesenjangan menjadi hal yang penting dalam penurunan kemiskinan. (Yao, 1999) menunjukkan bahwa kasus kemiskinan sangat sensitif terhadap perubahan pendapatan dan kesenjangan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi memang diperlukan untuk penurunan kemiskinan, tetapi tidak cukup hanya dengan itu saja. Penurunan kemiskinan membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta sistem distribusi pendapatan yang lebih baik. Artinya, masalah kesenjangan sama pentingnya dengan masalah pertumbuhan ekonomi. Masih menyangkut masalah kesenjangan, (Seth, 2002) mengungkapkan bahwa pendapatan masyarakat miskin sangat erat kaitannya dengan pendapatan orang kaya. Pertumbuhan pendapatan orang-orang kaya dapat mengurangi kemiskinan secara lebih proporsional dibandingkan dengan peningkatan pendapatan masyarakat miskin. Kenaikan satu dollar pendapatan orang-orang kaya menyebabkan peningkatan pendapatan masyarakat miskin sebesar 71 sen. Sedangkan kenaikan satu dollar pendapatan masyarakat miskin akan menyebabkan kenaikan pendapatan orang kaya sebesar 41 sen. Penelitian lain yang membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi, kesenjangan, dan kemiskinan absolute saling berhubungan adalah (Prados, Escosura, & Carlos, 2008), yang mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi bersama dengan penurunan kesenjangan terutama selama tahun-tahun 1950an di negara Spanyol, menyebabkan penurunan kemiskinan absolut dalam jangka panjang.  Pertumbuhan pendapatan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan kesenjangan (distribusi pendapatan yang lebih merata) dalam mengurangi kemiskinan, tapi penurunan kesenjangan juga memainkan peranan penting yang tidak dapat diabaikan dalam proses penurunan kemiskinan.

III.   Kesimpulan

Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan berbeda-beda disetiap negara, sehingga kadang pertumbuhan ekonomi dianggap tidak memiliki dampak terhadap penurunan kemiskinan. Dari beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat mempengaruhi penurunan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi mempunyai dampak yang lebih signifikan untuk mengurangi kemiskinan absolut dibandingkan dengan kemiskinan relatif. Masalah kesenjangan menjadi hal yang penting untuk melihat bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat mengurangi kemiskinan. Seringkali pertumbuhan ekonomi malah membuat masalah kemiskinan menjadi semakin buruk, karean distribusi pendapatan yang tidak merata atau tingginya kesenjangan ekonomi.


IV.   Daftar Pustaka

Iceland, J. (2011). Why poverty remains high : The role of income growth , economic inequality, and changes in family structure, 1949-1999. Demography, 40(3), 499–519.

Janvry, A. De, & Sadoulet, E. (1999). February 4, 1999. Inter-american Development.

Kraay, A. (2006). When is growth pro-poor ? Evidence from a. Journal of Development Economic, 80, 198–227.

Prados, L., Escosura, D. E. L. A., & Carlos. (2008). Inequality , poverty and the Kuznets curve in Spain , 1850 – 2000. European Review of Economic History, 12, 287–324.

Seth, W. (2002). Economic growth and poverty : In search of trickle-down. Cato Journal, 22(2), 263–276.

Vora-sittha, P. (2012). Governance and Poverty Reduction in Thailand. Modern Economy, 3, 487–497. doi:10.4236/me.2012.35064

Warr, P. (2004). Globalization , Growth , and Poverty Reduction in Thailand. ASEAN Economic Bulletin, 21(1), 1–18.

Yao, S. (1999). Economic growth , income inequality and poverty in China under economic reforms. The Journal of Development Studies, 35(6), 104–131.



Note : tulisan ini dibuat tahun 2013/2015 sebagai salah satu pemenuhan tugas mata kuliah TPIP

No comments:

Post a Comment