Sekedar ingin mencurahkan pemikiran, kali ini tentang pacaran...
Dulu, aku pernah berfikir bahwa pacaran adalah hal yang wajar.. gapapa punya pacar, asal ga ngapa-ngapain, ga macem-macem. Bayanganku tentang pacaran cuma sekedar suka sama seseorang, ngobrol, cerita-cerita, kadang jalan bareng, udah aja... makanya waktu itu, meskipun suka ngaji aku masih mikir gapapa punya pacar.
Padahal dalam agamaku jelas ada larangan mendekati zina. Pacaran itu, mau diakui atau tidak, pasti deket-deket sama zina..ga pacaran pun sebenarnya bisa aja mendekati/melakukan zina, tapi dengan pacaran seolah membuka pintu secara lebar, terang-terangan, sadar dan suka rela untuk berbuat zina.
Dulu aku juga sempet punya pacar, sahabatku sendiri. Hari pertama jadian, kita langsung LDR beda provinsi... selama hampir 1,5 tahun berpacaran, kita hanya bertemu 6 kali (kalo ga salah), itu pun hanya sebentar. Selama pacaran, ga pernah sekali pun pegang tangan dia (seingetku), apalagi ke hal yang lebih jauh dari pegangan tangan... yang kami lakukan hanya sms-an dan telepon...
Alasanku waktu itu nerima dia jadi pacar selain karena aku suka dia, juga pengen jagain dia, takut dia terjerumus pergaulan bebas karena mau kuliah disana..saat itu aku dapet info kalo di daerah sana pergaulannya bebas banget, banyak mahasiswi yang aborsi karena pergaulan bebas..(mohon maaf, tidak ada maksud untuk menjelekkan suatu, ini hanya keterbatasan informasi dan dan pengetahuanku aja waktu itu)
Kita akhirnya putus, ga jelas juga alasannya apa.. lalu aku berkomitmen untuk tidak pacaran, sebenarnya aku juga masih bingung..apa bisa nanti nikah tanpa pacaran? apa aku siap?
Kita akhirnya putus, ga jelas juga alasannya apa.. lalu aku berkomitmen untuk tidak pacaran, sebenarnya aku juga masih bingung..apa bisa nanti nikah tanpa pacaran? apa aku siap?
Pada akhirnya, mencoba untuk berkomitmen dengan keputusan yang telah dibuat memang tidak segampang membalikkan telapak tangan. Apalagi kalau masih menyinpan perasaan.
Jadi ketika putus itu, sebenarnya aku masih bingung, kenapa semua tiba-tiba selesai? apa ada yang salah? apa dia suka sama yang lain? saat itu juga perasaan ku semua campur aduk.. sedih, bingung, kesal, marah, tapi masih sayang.. (wkwk..geli banget ngetik ini...tapi ini dulu, sekarang mah udah ngga ada perasaan apa-apa yaaa). Diantara perasaan ku itu, saat itu yang aku turuti adalah perasaan marah ku..
Pada akhirnya kemarahanku menuntunku pada satu solusi yaitu dengan menyibukkan diri mempelajari ilmu agama. Aku marah hingga ingin cepat-cepat melupakan dia. Dengan ke sotoy-an ku, ku pikir hati ini kalo sering diisi dengan pengajian mengingat Allah, maka dengan sendirinya aku akan lupa dengan dia (tips untuk move on : sibukan diri dengan kegiatan positif)
Aku senang, dulu memilih menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu agama, mengikuti kajian agama di kampus. Untungnya aku tidak salah memilih kajian, karena ketika itu lagi gencar-gencarnya isu aliran sesat. Harus hati-hati memilih kajian, bahkan dilingkungan kampus.
Seiring dengan bertambahnya pemahamanku, meskipun sedikit demi sedikit, aku mengetahui bahwa segala bentuk pacaran tidak diperbolehkan dan aku berkomitmen untuk tidak pacaran. Jika pun nanti aku menyukai seseorang, tapi belum memikirkan untuk serius ke jenjang pernikahan, maka yang akan aku lakukan adalah memendam perasaan atau sesuai tuntunan Rasulullah, dengan menundukkan pandangan.
Selain terkait pacaran, aku juga menjadi sadar bahwa sebagai seorang muslim, bentuk ketaatan kita kepada Allah bukan hanya menjalankan ibadah seperti sholat, puasa, membaca qur'an, sedekah, dll saja tapi dalam keseharian kita juga. Misalnya, cara berpakaian, sikap, pergaulan, makanan, mencari rejeki, dll. Semua sudah ada tuntunannya dalam islam.
Sebenernya dari aku masih kecil juga mungkin aku tahu hal-hal seperti itu, karena mungkin sudah diajarkan di pengajianku waktu di kampung dulu. Tapi feel nya ga berasa. Seolah itu cuma formalitas yang harus diketahui saja. Salah satunya terkait pemahamanku yang salah tentang pacaran, yang aku sebutkan diawal tulisan ini. Aku baru benar-benar tersadar setelah melihat langsung contohnya dari senior-senior yang menyampaikan hal-hal terkait agama dan benar-benar menerapkannya dalam keseharian mereka. Barulah aku sadar bahwa kita harus menerapkan ajaran islam seutuhnya dalam segala aktivitas keseharian kita, bukan cuma ibadah sholat dkk nya saja.
Kembali ke permasalahan pacaran, meskipun saat itu aku sudah sadar dan berkomitmen untuk menjauhi yang namanya pacaran, namun kenyataannya tidak semudah itu. Diawal-awal masa setelah putus, kadang-kadang masih ingat mantan, stalking-stalking media sosialnya, dll wkwk meskipun waktu itu masih marah banget ya sama dia. Karena aku masih menyangka kalo kita putus karena dia selingkuh/suka sama temennya disana. Jadi memang harus ada usaha untuk menjaga komitmen.
Aku sangat terbantu untuk tetap menjalankan komitmenku karena lingkungan pertemananku. Mereka adalah orang-orang yang sama-sama sedang belajar dan berusaha untuk taat. Jadi ada rasa malu kalau sampai aku kembali ke masa dulu. Selain itu, mereka juga jadi motivasi ku untuk berusaha menjadi lebih baik lagi, untuk lebih taat. Komitmenku waktu itu juga bukan hanya terkait pacaran, tapi hal-hal lain diluar itu. Intinya aku sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Tuhan. Meskipun terkadang masih suka tergelincir juga..
Kembali lagi ke soal pacaran. Sebenernya niat buat tulisan ini awalnya ingin menyampaikan larangan pacaran, entah bagaimanapun bentuknya, dampak negatifnya dan
No comments:
Post a Comment