Menu

Thursday, July 8, 2021

Peranan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Tingkat Kemiskinan {Literature Review)

 I.    Pendahuluan

Penurunan tingkat kemiskinan telah menjadi isu penting bagi setiap negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Masalah penurunan kemiskinan ini semakin mendapatkan perhatian dunia setelah organisasi internasional - Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), mengadakan World Summit pada September 2000 dan merumuskan Millenium Development Goals (MDGs) 2015. Pengentasan kemiskinan menjadi salah satu dari delapan tujuan yang tercantum dalam MDGs , yaitu pada tahun 2015 tingkat kemiskinan dan kelaparan diharapkan akan turun sebanyak 50 persen.

Tujuan dari literatur ini adalah untuk melihat bagaimana hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan.

II.   Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan diberbagai Negara

Pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan tingkat kemiskinan masih sering menjadi perdebatan. Dalam teori neo-klasik, negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan mampu untuk mengurangi kemiskinan lebih cepat, jika manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut juga didistribusikan kepada masyarakat miskin. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi akan menurunkan tingkat kemiskinan. Namun beberapa hasil studi menunjukkan hal yang berbeda. Meskipun suatu negara mengalami pertumbuhan pendapatan, namun tingkat kemiskinannya tidak menurun atau meski pertumbuhan ekonominya pesat, namun tingkat kemiskinannya tetap tinggi. Seperti yang diungkapkan oleh (Vora-sittha, 2012), di negara Thailand tingkat pertumbuhan PDB secara statistik tidak signifikan dalam mengurangi kemiskinan yang diukur dengan rasio jumlah tenaga kerja. Dengan menggunakan korelasi Pearson selama periode 1996-2009, pertumbuhan ekonomi, ketimpangan pendapatan dan tingkat kemiskinan, tidak saling berkorelasi. Hasil ini berbeda dengan studi sebelumnya.  Dengan menggunakan data dari tahun 1986-2003, (Warr, 2004) menyatakan bahwa ada dua hal penting dalam penurunan kemiskinan yang berkelanjutan di negara Thailand, yaitu memulihkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kapasitas pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin. Bukti dari Thailand menunjukkan bahwa yang menjadi faktor penentu dari penurunan kemiskinan adalah tingkat pertumbuhan agregat, baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek.

Mengapa muncul perbedaan seperti ini? Faktor yang paling penting dalam melihat masalah kemiskinan adalah mengenai pengukuran kemiskinan. (Iceland, 2011) menggunakan dua konsep kemiskinan, yaitu kemiskinan absolut dan relatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan mempengaruhi sebagian besar tren dalam kemiskinan absolut. Mayoritas penurunan yang tinggi dalam kemiskinan absolut selama periode 1949-1969 di Amerika Serikat disebabkan oleh adanaya pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh yang lebih kecil untuk kemiskinan relatif, jika dibandingkan dengan kemiskinan absolut. Sedangkan menurut (Kraay, 2006) dalam jangka menengah hingga jangka panjang, pertumbuhan rata-rata pendapatan menjadi faktor dominan dalam penurunan kemiskinan diberbagai negara. Pertumbuhan rata-rata pendapatan mempunyai pengaruh yang besar baik untuk kemiskinan absolut maupun relatif.

Masalah lain yang dapat mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan kemiskinan adalah kesenajngan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan mampu menurunkan tingkat kemiskinan di desa dan di kota jika tingkat kesenjangan dan kemiskinan tidak terlalu tinggi (Janvry & Sadoulet, 1999). Masalah kesenjangan menjadi hal yang penting dalam penurunan kemiskinan. (Yao, 1999) menunjukkan bahwa kasus kemiskinan sangat sensitif terhadap perubahan pendapatan dan kesenjangan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi memang diperlukan untuk penurunan kemiskinan, tetapi tidak cukup hanya dengan itu saja. Penurunan kemiskinan membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta sistem distribusi pendapatan yang lebih baik. Artinya, masalah kesenjangan sama pentingnya dengan masalah pertumbuhan ekonomi. Masih menyangkut masalah kesenjangan, (Seth, 2002) mengungkapkan bahwa pendapatan masyarakat miskin sangat erat kaitannya dengan pendapatan orang kaya. Pertumbuhan pendapatan orang-orang kaya dapat mengurangi kemiskinan secara lebih proporsional dibandingkan dengan peningkatan pendapatan masyarakat miskin. Kenaikan satu dollar pendapatan orang-orang kaya menyebabkan peningkatan pendapatan masyarakat miskin sebesar 71 sen. Sedangkan kenaikan satu dollar pendapatan masyarakat miskin akan menyebabkan kenaikan pendapatan orang kaya sebesar 41 sen. Penelitian lain yang membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi, kesenjangan, dan kemiskinan absolute saling berhubungan adalah (Prados, Escosura, & Carlos, 2008), yang mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi bersama dengan penurunan kesenjangan terutama selama tahun-tahun 1950an di negara Spanyol, menyebabkan penurunan kemiskinan absolut dalam jangka panjang.  Pertumbuhan pendapatan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan kesenjangan (distribusi pendapatan yang lebih merata) dalam mengurangi kemiskinan, tapi penurunan kesenjangan juga memainkan peranan penting yang tidak dapat diabaikan dalam proses penurunan kemiskinan.

III.   Kesimpulan

Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan berbeda-beda disetiap negara, sehingga kadang pertumbuhan ekonomi dianggap tidak memiliki dampak terhadap penurunan kemiskinan. Dari beberapa hasil studi menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat mempengaruhi penurunan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi mempunyai dampak yang lebih signifikan untuk mengurangi kemiskinan absolut dibandingkan dengan kemiskinan relatif. Masalah kesenjangan menjadi hal yang penting untuk melihat bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat mengurangi kemiskinan. Seringkali pertumbuhan ekonomi malah membuat masalah kemiskinan menjadi semakin buruk, karean distribusi pendapatan yang tidak merata atau tingginya kesenjangan ekonomi.


IV.   Daftar Pustaka

Iceland, J. (2011). Why poverty remains high : The role of income growth , economic inequality, and changes in family structure, 1949-1999. Demography, 40(3), 499–519.

Janvry, A. De, & Sadoulet, E. (1999). February 4, 1999. Inter-american Development.

Kraay, A. (2006). When is growth pro-poor ? Evidence from a. Journal of Development Economic, 80, 198–227.

Prados, L., Escosura, D. E. L. A., & Carlos. (2008). Inequality , poverty and the Kuznets curve in Spain , 1850 – 2000. European Review of Economic History, 12, 287–324.

Seth, W. (2002). Economic growth and poverty : In search of trickle-down. Cato Journal, 22(2), 263–276.

Vora-sittha, P. (2012). Governance and Poverty Reduction in Thailand. Modern Economy, 3, 487–497. doi:10.4236/me.2012.35064

Warr, P. (2004). Globalization , Growth , and Poverty Reduction in Thailand. ASEAN Economic Bulletin, 21(1), 1–18.

Yao, S. (1999). Economic growth , income inequality and poverty in China under economic reforms. The Journal of Development Studies, 35(6), 104–131.



Note : tulisan ini dibuat tahun 2013/2015 sebagai salah satu pemenuhan tugas mata kuliah TPIP

Tuesday, November 18, 2014

SHEILA

* Ayah *

Sore itu, dibawah naungan langit mendung, di dalam bis kota tujuan Bekasi-Bandung, seorang perempuan muda tengah duduk termenung. Perempuan itu bernama Sheila. Usianya baru 21 tahun, seminggu yang lalu ia baru saja resmi mengakhiri statusnya sebagai mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri ternama di Bandung. Sepanjang perjalanan menuju Bandung, ia terus saja memandang keluar jendela, matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan dirinya agar tidak menangis saat itu.  Hatinya pilu, pikirannya menerawang ke masa-masa yang lalu.
Hari itu, ditengah lapangan, wajah-wajah ceria dan gelak tawa dari bocah-bocah  lugu memenuhi udara. Anak-anak itu tengah asik bermain kejar-kejaran dan mengitari lapangan dengan sepeda mereka. Semuanya terlihat sangat bahagia. Begitupun dengan gadis kecil yang tengah duduk dipinggir lapangan bersama seorang temannya. Karena tidak memiliki sepeda, kedua gadis kecil tersebut hanya bisa menyaksikan teman-temannya bermain sepeda. Meskipun demikian, keduanya terlihat amat bahagia. Sambil meniup gelembung sabun, mereka menyoraki teman-temannya yang sedang bermain sepeda. Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya yang memiliki jenggot tebal menghampiri salah satu dari mereka. Lelaki itu berbisik pada sang gadis cilik, “Sheila mau sepeda ga?”.
Gadis kecil yang baru berusia 5 tahun itu terperanjat, lalu ia menjawab sambil mengusap-usap pipinya, ”Aduuh, Aayaaah...kebiasaan deh suka bisik-bisik. Geli tau, Yah. Jenggot Ayah tuh kena pipi Sheila”.
Lelaki itupun tertawa,” Hahaha,,, jadi Sheila mau sepeda atau ngga nih?”
“Mmm,,mau, mau, mau, mau banget, Yah. Emang Ayah mau beliin buat Sheila? Kapan Yah?”
“Kalau sekarang gimana? Mau? Yuk..!!”
Yeeeeh.. mau dong, Yah. Ayoo kita kemon..!”, Sheila kecil pun melompat kegirangan.
Eh, tunggu dulu, temen kamu, Lia, gimana? Kan kalian lagi main bareng?”.
“Oh iya, Yah. Sheila lupa. Hehe.. Kalau Lia ikut kita beli sepeda boleh ngga, Yah?”.
“Boleh, Tapi Lia mau ikut atau ngga?” tanya Ayah Sheila kepada gadis cilik disamping Sheila.
“Hmm.. Lia disini saja, Om. Masih mau lihat teman-teman main sepeda” gadis itu pun menjawab sambil tersenyum.
Akhirnya, Sheila dan Ayahnya membeli sepeda. Sepeda pertama yang Sheila miliki adalah sepeda roda tiga pemberian ayahnya pada hari itu.



Meskipun Sheila hanya bisa mengenal Ayahnya hingga usianya 5 tahun saja, namun kenangan masa kecilnya bersama sang Ayah tidak akan pernah dilupakan oleh Sheila. Pada saat itu, Sheila dan keluarganya tinggal di sebuah kampung di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Mereka adalah keluarga yang sederhana. Keluarga Sheila memiliki warung kecil di dekat rumahnya. Setiap hari, Ayah dan Ibu Sheila bergantian menjaga warung tersebut. Selain warung, keluarga Sheila juga memiliki beberapa petak sawah. Sesekali Ayah Sheila juga pergi ke sawah untuk mengurusi sawahnya.
Sosok sang Ayah dimata Sheila merupakan sosok yang sangat luar biasa. Selain berdagang dan bertani, Ayah Sheila juga menjadi guru ngaji di kampung tersebut. Mulai dari pegajian Ibu-ibu hingga pengajian anak-anak. Pengajian ibu-ibu biasanya diadakan pada hari minggu pagi di majelis ta’lim terdekat, sementara pengajian anak-anak diadakan setiap hari dan biasanya dimulai setelah sholat maghrib. Ayah Sheila dikenal sebagai sosok yang humoris, suka bercanda, tapi ia juga bisa menjadi seseorang yang sangat serius dan tegas (galak), terutama terkait masalah agama. Misalnya saja jika kakaknya Sheila tidak mau sholat atau mengaji, Ayah akan mengurung kakaknya Sheila di gudang belakang rumah sampai kakak kapok dan berjanji untuk rajin sholat dan mengaji.
Sheila memiliki 3 saudara perempuan. Dua diantaranya sedang menuntut ilmu disebuah pesantren di kabupaten Bekasi. Sementara saudara Sheila yang lainnya masih kelas 6 SD. Sheila pada saat itu masih berusia 5 tahun. Waktu kecil, Sheila adalah anak yang sangat manja. Ia sering minta dibelikan mainan yang baru dilihatnya di iklan televisi. Jika keinginannya tidak dituruti, Sheila bisa mengamuk tidak terkendali (menangis sejadi-jadinya). Pada saat itulah Ayah Sheila berubah menjadi sosok yang sangat galak. Ia akan membawa Sheila ke kamar mandi lalu menyiramkan seember air keatas kepala Sheila hingga membasahi seluruh badannya. Setelah disiram air, biasanya Sheila berhenti menangis. Mekipun demikian, Sheila sangat bangga dengan Ayahnya. Ayah seringkali memberikan kejutan untuk Sheila, salah satunya sepeda roda tiga tadi.

Kenangan-kenangan masa kecil terus saja melintas dibenak Sheila.

Saat itu, didepan warung milik keluarganya, Sheila kecil tengah menunggu sang ayah pulang. Sambil duduk dibawah pohon jambu, Sheila terus mengarahkan pandangannya ke jalan kecil yang ada didepannya. Dari jalan itulah sosok yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul. Sheila kecil menyambut ayahnya dengan senyuman lebar. Sang Ayah menghampiri Sheila lalu mencium pipi Sheila.
“Tuh kan Ayah, lagi-lagi jenggot Ayah bikin Sheila geli”, Sheila mengusap-usap pipinya yang dicium Ayah.
Ayahnya tersenyum, “Sheila sedang apa disini? Ko’ sendirian aja? Bunda mana?”
“Iiih, Aaayaah, Sheila kan lagi nungguin Ayah pulang. Bunda ada di warung, Yah. Itu..” sambil menunjuk ke arah warung.
“Oh, kirain hari ini warungnya tutup. Ini ada oleh-oleh buat Sheila”, Ayah memberikan bingkisan kepada Sheila.
“Wah, apa ini Yah? Ayah darimana sih? Ko’ pagi-pagi Ayah udah pergi terus sekarang pulangnya sore-sore? ga pamit dulu sama Sheila lagi !” tanya Sheila, sambil sibuk membuka bingkisan dari Ayahnya.
Ayah mengelus kepala Sheila, “Ayah habis dari Bekasi, menengok kakak Sheila yang sedang sekolah sambil pesantren disana. Karena Bekasi itu jauh, jadi Ayah berangkatnya pagi-pagi dan baru pulang sekarang. Tadi pagi kan Sheila masih tidur. Ayah ga mau bangunin Sheila, jadi Ayah ga pamitan dulu ke Sheila deh..”
“Hmm,,yaudah gapapa, Yah, yang penting Ayah bawa oleh-oleh buat Sheila. Hehehe...”
“Huuu.. dasar anak Ayah. Oleh-olehnya jangan dulu dikasih ke Sheila, Yah. Tadi siang dia nangis lagi minta dibeliin mainan. Dia juga belum mandi sore tuh. Disuruh mandi, ngga mau. Maunya nungguin Ayah pulang”, tiba-tiba Bunda menghampiri mereka berdua.
“Oh, jadi anak Ayah ini belum mandi? Pantesan bau asem.. hehe. Sheila dengerin Ayah ya. Sheila harus nurut sama Ayah dan Bunda, Sheila ga boleh nakal, jangan ngamuk-ngamuk minta dibelikan mainan terus. Nanti kalau Sheila nurut sama Ayah dan Bunda, Ayah pasti belikan mainan buat Sheila. Kalau Ayah pergi, Sheila jagain Bunda ya, bantuin Bunda di warung. Sekarang Sheila mandi gih sana, ikut Bunda pulang kerumah. Warungnya biar Ayah yang jagain” kata ayahnya Sheila.
“Siap, komandan. Hehe.. Sekarang Sheila mau mandi deh. dadah Ayaaah..”, Sheila berlalu sambil melambaikan tangannya.
Sheila dan Bunda pun pulang kerumah. Itulah hari terakhir Sheila bisa bercanda dengan Ayahnya.
Kini, betapa merindunya Sheila akan sosok itu, sosok yang terakhir kali ia temui 16 tahun yang lalu.  Tak terasa, air mata Sheila pun menetes. Buru-buru Sheila mengusap pipnya yang basah.

Sheila selalu ingat Ayahnya ketika ia mempunyai masalah atau merasa kesepian.  Seperti saat ini, Sheila sedang merasa kesepian. ia baru saja berangkat dari rumah kakaknya menuju Bandung.

Friday, August 31, 2012

Nota Keuangan 2013 : Belanja Modal dan Investasi Harus Ditingkatkan



Pada tanggal 16 Agustus 2012, Presiden menyampaikan pidato mengenai Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2013 beserta Nota Keuangannya dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang I DPR-RI. Acara ini digelar di Gedung Nusantara atau Gedung Kura-kura, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Rapat tersebut dihadiri oleh pimpinan dan anggota DPR sebagai badan yang mempunyai fungsi untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan undang-undang (RUU) tentang APBN, dan dihadiri oleh pimpinan dan anggota DPD sebagai badan yang mempunyai fungsi pemberian pertimbangan kepada DPR atas RUU APBN dan pengawasan atas pelaksanaan APBN. Menurut pidato yang disampaikan Presiden,  dalam RAPBN 2013 pendapatan negara direncanakan mencapai Rp 1.507,7 triliun sedangkan anggaran belanja negara direncanakan mencapai Rp 1.657,9 triliun. Sehingga defisit anggaran pada tahun 2013 hanya sebesar Rp150,2 triliun atau 1,6 persen dari PDB.   Anggaran belanja negara itu akan dialokasikan kepada tiga kelompok besar belanja, masing-masing untuk belanja Kementerian Negara/Lembaga Rp 547,4 triliun, belanja Non-Kementerian Negara/Lembaga Rp 591,6 triliun, dan Transfer ke Daerah Rp 518,9 triliun.
Penyusunan RAPBN  untuk tahun 2013 ini juga sedikit banyak dipengaruhi oleh perkembangan keadaan ekonomi global. Krisis ekonomi global dan krisis utang Eropa yang terjadi baru-baru ini telah meningkatkan ketidakpastian dalam dunia ekonomi dan bisnis secara umum sehingga Pemerintah harus lebih jeli dalam penyusunan anggaran belanja negara agar negara Indonesia tidak mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi ditengah situasi ekonomi dunia yang memang sedang sulit. Secara makro, pemerintah mengasumsikan dan menargetkan pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2013 sebesar 6,8 persen, laju inflasi mencapai 4,9 persen, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 5 persen, nilai tukar rupiah akan mengalami pelemahan akibat ketidakpastian perkembangan ekonomi sehingga angkanya mencapai Rp 9.300 per dolar AS; harga minyak 100 dolar per barel; dan lifting minyak 900 ribu barel per hari. Keenam asumsi makro tersebut sekaligus menjadi dasar atau basis perhitungan berbagai besaran RAPBN 2013.Sebagaimana yang telah disampaikan Presiden dalam pidatonya, besarnya anggaran transfer ke daerah yang direncanakan APBN tahun 2013 adalah Rp518,9 triliun. Anggaran itu akan dialokasikan masing-masing untuk dana perimbangan sebesar Rp435,3 triliun, dana otonomi khusus dan penyesuaian sebesar Rp83,6 triliun. Presiden juga mengharapkan agar pemerintah daerah (DPD) dapat mengalokasikan lebih banyak dana APBN untuk tahun 2013 yang diberikan kepada daerah (atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)) untuk belanja modal dan investasi bukan belanja rutin. Hal ini memang harus dilakukan agar dapat mendorong iklim investasi dan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Investasi sangat penting dalam menentukan pertumbuhan ekonomi. Investasi sangat menentukan apakah pertumbuhan pendapatan negara dapat berkelanjutan atau tidak. Dengan banyaknya investasi yang mengalir, maka depresiasi capital stock bisa dihindari atau diperkecil bahkan mungkin capital stock akan meningkat, sehingga input untuk melakukan produksi dan pembentuk PDB akan naik dan pada akhirnya akan meningkatkan standar hidup atau tingkat kesejahteraan masyarakat. Meskipun pada kenyataannya, tidak semudah itu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun dengan begitu komposisi APBN yang lebih banyak mengalokasikan dananya untuk belanja modal dan investasi ini diharapkan mampu melakukan ekspansi yang dapat memacu kegiatan ekonomi yang lebih produktif dan mendorong pro-pertumbuhan, pro-lapangan kerja, pro-pengurangan kemiskinan, dan pro-lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kualitas manusia Indonesia.

Monday, July 9, 2012

Kesiapan Masyarakat Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015



Pada tahun 2003, KTT ASEAN ke-9 yang berlangsung di Bali, Indonesia menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan nama Declaration of ASEAN Concord II (Bali Concord II). Isinya adalah bahwa negara-negara anggota ASEAN menyepakati terbentuknya komunitas ASEAN (ASEAN Community). Komunitas ini dibagi dalam tiga bidang, yaitu bidang keamanan-politik atau ASEAN Political-Security Community, sosial budaya atau ASEAN Socio-Culture Community, dan yang terakhir adalah dalam bidang ekonomi yaitu ASEAN Economic Community. Para pemimpin ASEAN mendeklarasikan bahwa ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN  seharusnya menjadi tujuan dari integrasi ekonomi regional 2020. Ini juga merupakan usaha mewujudkan ASEAN Vision 2020 yang  berkaitan dengan tujuan menciptakan kawasan ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan berdaya-saing tinggi dengan pembangunan ekonomi yang merata yang ditandai dengan penurunan tingkat kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi.
Konsep mengenai masyarakat ekonomi ASEAN ini tertuang jelas dalam ASEAN Economic Community Blueprint (AEC Blueprint) yang merupakan hasil dari pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN tahun 2006 di Kuala Lumpur, Malaysia.  AEC Blueprint ini memuat empat kerangka utama :
1.       ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang lebih bebas.
2.       ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi, dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastuktur, perpajakan, dan e-commerce.
3.       ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah, prakarsa integrasi ASEAN untuk negara-negara CMLV(Cambodia, Myanmar, Laos, dan Vietnam).
4.       ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar kawasan, dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global.

Jika dilihat dari tujuan dibentuknya, masyarakat ekonomi ASEAN ini sebenarnya akan menguntungkan semua negara anggota ASEAN karena akan memperkecil gap pertumbuhan dan kesejahteraan antar negara dan akan berhasil jika memang semua negara telah siap akan segala sesuatunya, misalnya siap mengahadapi persaingan yang lebih bebas antar negara ASEAN. Namun jika ada negara yang belum siap, maka yang terjadi adalah AEC ini malah akan menambah gap antar negara, satu negara tumbuh sangat pesat sementara negara lainnya yang belum siap bersaing akan tumbuh dengan sangat lamban. Masalahnya adalah apakah negara Indonesia termasuk kedalam kategori negara yang telah siap untuk menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN atau mungkin malah sebaliknya. Hal ini harus dilihat dalam beberapa aspek.
Dalam AEC Blueprint poin pertama misalnya, ASEAN akan menjadi pasar tunggal dimana nantinya akan terjadi aliran bebas barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja yang mempunyai keahlian antar negara ASEAN. Kenyataan yang saya lihat terjadi di Indonesia saat ini adalah daya saing industri di Indonesia masih kurang. Indonesia masih banyak mengekspor bahan baku. Sehingga nilai jualnya rendah dan memberikan keuntungan yang lebih kecil dibandingkan jika menjual barang hasil pengolahan atau barang yang sudah jadi (bukan bahan mentah), hal ini juga sering menyebabkan terjadinya kekurangan bahan baku untuk produksi industri dalam negeri. Meskipun sudah ada beberapa kebijakan yang mulai melarang ekspor bahan baku (di industri rotan misalnya), namun hal itu masih belum cukup. Pemerintah harus lebih menggencarkan lagi pelarangan ekpor bahan baku ini dan memberikan bantuan kepada produsen dalam negeri (terutama usaha kecil menengah)untuk mendorong produksi barang agar nantinya barang yang dihasilkan mempunyai nilai lebih dan mampu bersaing dengan negara lainnya serta mendorong ekspor barang hasil produksi industri dalam negeri. Selain itu juga, karena negara-negara ASEAN mempunyai banyak karakteristik lingkungan yang sama , komoditas unggulan di negara-negara ASEAN pun memiliki kesamaan. Sehingga agar nantinya mampu menguasai pasar atau setidaknya mampu menarik perhatian konsumen pasar tunggal ASEAN, maka industri dalam negeri harus pintar berinovasi dan membuat sesuatu yang berbeda dan unik, namun dengan kualitas yang baik. Nyatanya hingga saat ini, pasar di Indonesia masih dipenuhi oleh barang-barang dari luar (misalnya Cina) dan masyarakat lebih tertarik dengan barang-barang tersebut daripada barang hasil produksi dalam negeri, itu artinya Indonesia masih kalah bersaing, bahkan di negaranya sendiri.
Dalam hal ketenagakerjaan pun negara ini masih banyak kekurangan. Selama ini, tenaga kerja dari Indonesia yang banyak keluar adalah tenga kerja kasar bukan tenaga kerja ahli. Untuk menghadapi AEC ini, Indonesia kini mulai mendorong berdirinya lembaga-lembaga independen/institusi nasional seperti Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) maupun Badan Standardisasi Nasional (BSN), dan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mengawasi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, sekaligus membantu peningkatan kualitas tenaga kerja secara regional. Hal penting lainnya untuk menghadapi AEC 2015 adalah Indonesia harus mempersiapkan diri secara matang terutama di bidang infrastruktur maupun iklim investasi yang kondusif.
Indonesia nampaknya masih belum siap untuk menyambut AEC 2015 ini, mengingat masih banyaknya hal yang harus negara ini perbaiki.