* Ayah
*
Sore itu,
dibawah naungan langit mendung, di dalam bis kota tujuan Bekasi-Bandung, seorang
perempuan muda tengah duduk termenung. Perempuan itu bernama Sheila. Usianya
baru 21 tahun, seminggu yang lalu ia baru saja resmi mengakhiri statusnya
sebagai mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri ternama di Bandung.
Sepanjang perjalanan menuju Bandung, ia terus saja memandang keluar jendela,
matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan dirinya agar tidak menangis saat
itu. Hatinya pilu, pikirannya menerawang
ke masa-masa yang lalu.
Hari itu,
ditengah lapangan, wajah-wajah ceria dan gelak tawa dari bocah-bocah lugu memenuhi udara. Anak-anak itu tengah
asik bermain kejar-kejaran dan mengitari lapangan dengan sepeda mereka.
Semuanya terlihat sangat bahagia. Begitupun dengan gadis kecil yang tengah
duduk dipinggir lapangan bersama seorang temannya. Karena tidak memiliki
sepeda, kedua gadis kecil tersebut hanya bisa menyaksikan teman-temannya
bermain sepeda. Meskipun demikian, keduanya terlihat amat bahagia. Sambil
meniup gelembung sabun, mereka menyoraki teman-temannya yang sedang bermain
sepeda. Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya yang memiliki jenggot tebal
menghampiri salah satu dari mereka. Lelaki itu berbisik pada sang gadis cilik,
“Sheila mau sepeda ga?”.
Gadis kecil yang baru
berusia 5 tahun itu terperanjat, lalu ia menjawab sambil mengusap-usap pipinya,
”Aduuh, Aayaaah...kebiasaan deh suka
bisik-bisik. Geli tau, Yah. Jenggot Ayah tuh
kena pipi Sheila”.
Lelaki itupun tertawa,”
Hahaha,,, jadi Sheila mau sepeda atau ngga
nih?”
“Mmm,,mau, mau, mau, mau
banget, Yah. Emang Ayah mau beliin buat Sheila? Kapan Yah?”
“Kalau sekarang gimana? Mau?
Yuk..!!”
“Yeeeeh.. mau dong, Yah. Ayoo kita kemon..!”, Sheila kecil pun melompat kegirangan.
“Eh, tunggu dulu, temen kamu, Lia, gimana? Kan kalian lagi main
bareng?”.
“Oh iya, Yah. Sheila lupa.
Hehe.. Kalau Lia ikut kita beli sepeda boleh ngga, Yah?”.
“Boleh, Tapi Lia mau ikut
atau ngga?” tanya Ayah Sheila kepada
gadis cilik disamping Sheila.
“Hmm.. Lia disini saja, Om.
Masih mau lihat teman-teman main sepeda” gadis itu pun menjawab sambil
tersenyum.
Akhirnya, Sheila dan Ayahnya
membeli sepeda. Sepeda pertama yang Sheila miliki adalah sepeda roda tiga
pemberian ayahnya pada hari itu.
Meskipun Sheila
hanya bisa mengenal Ayahnya hingga usianya 5 tahun saja, namun kenangan masa
kecilnya bersama sang Ayah tidak akan pernah dilupakan oleh Sheila. Pada saat
itu, Sheila dan keluarganya tinggal di sebuah kampung di salah satu kabupaten
di Jawa Barat. Mereka adalah keluarga yang sederhana. Keluarga Sheila memiliki
warung kecil di dekat rumahnya. Setiap hari, Ayah dan Ibu Sheila bergantian
menjaga warung tersebut. Selain warung, keluarga Sheila juga memiliki beberapa
petak sawah. Sesekali Ayah Sheila juga pergi ke sawah untuk mengurusi sawahnya.
Sosok
sang Ayah dimata Sheila merupakan sosok yang sangat luar biasa. Selain
berdagang dan bertani, Ayah Sheila juga menjadi guru ngaji di kampung tersebut.
Mulai dari pegajian Ibu-ibu hingga pengajian anak-anak. Pengajian ibu-ibu
biasanya diadakan pada hari minggu pagi di majelis ta’lim terdekat, sementara
pengajian anak-anak diadakan setiap hari dan biasanya dimulai setelah sholat
maghrib. Ayah Sheila dikenal sebagai sosok yang humoris, suka bercanda, tapi ia
juga bisa menjadi seseorang yang sangat serius dan tegas (galak), terutama
terkait masalah agama. Misalnya saja jika kakaknya Sheila tidak mau sholat atau
mengaji, Ayah akan mengurung kakaknya Sheila di gudang belakang rumah sampai
kakak kapok dan berjanji untuk rajin sholat dan mengaji.
Sheila
memiliki 3 saudara perempuan. Dua diantaranya sedang menuntut ilmu disebuah
pesantren di kabupaten Bekasi. Sementara saudara Sheila yang lainnya masih
kelas 6 SD. Sheila pada saat itu masih berusia 5 tahun. Waktu kecil, Sheila
adalah anak yang sangat manja. Ia sering minta dibelikan mainan yang baru
dilihatnya di iklan televisi. Jika keinginannya tidak dituruti, Sheila bisa
mengamuk tidak terkendali (menangis sejadi-jadinya). Pada saat itulah Ayah
Sheila berubah menjadi sosok yang sangat galak. Ia akan membawa Sheila ke kamar
mandi lalu menyiramkan seember air keatas kepala Sheila hingga membasahi
seluruh badannya. Setelah disiram air, biasanya Sheila berhenti menangis. Mekipun
demikian, Sheila sangat bangga dengan Ayahnya. Ayah seringkali memberikan
kejutan untuk Sheila, salah satunya sepeda roda tiga tadi.
Kenangan-kenangan masa kecil
terus saja melintas dibenak Sheila.
Saat itu,
didepan warung milik keluarganya, Sheila kecil tengah menunggu sang ayah
pulang. Sambil duduk dibawah pohon jambu, Sheila terus mengarahkan pandangannya
ke jalan kecil yang ada didepannya. Dari jalan itulah sosok yang ia
tunggu-tunggu akhirnya muncul. Sheila kecil menyambut ayahnya dengan senyuman
lebar. Sang Ayah menghampiri Sheila lalu mencium pipi Sheila.
“Tuh kan Ayah, lagi-lagi
jenggot Ayah bikin Sheila geli”, Sheila mengusap-usap pipinya yang dicium Ayah.
Ayahnya tersenyum, “Sheila
sedang apa disini? Ko’ sendirian aja? Bunda mana?”
“Iiih, Aaayaah, Sheila kan
lagi nungguin Ayah pulang. Bunda ada di warung, Yah. Itu..” sambil menunjuk ke
arah warung.
“Oh, kirain hari ini
warungnya tutup. Ini ada oleh-oleh buat Sheila”, Ayah memberikan bingkisan
kepada Sheila.
“Wah, apa ini Yah? Ayah
darimana sih? Ko’ pagi-pagi Ayah udah pergi terus sekarang pulangnya sore-sore?
ga pamit dulu sama Sheila lagi !” tanya Sheila, sambil sibuk membuka bingkisan
dari Ayahnya.
Ayah mengelus kepala Sheila,
“Ayah habis dari Bekasi, menengok kakak Sheila yang sedang sekolah sambil pesantren
disana. Karena Bekasi itu jauh, jadi Ayah berangkatnya pagi-pagi dan baru
pulang sekarang. Tadi pagi kan Sheila masih tidur. Ayah ga mau bangunin Sheila,
jadi Ayah ga pamitan dulu ke Sheila deh..”
“Hmm,,yaudah gapapa, Yah,
yang penting Ayah bawa oleh-oleh buat Sheila. Hehehe...”
“Huuu.. dasar anak Ayah.
Oleh-olehnya jangan dulu dikasih ke Sheila, Yah. Tadi siang dia nangis lagi
minta dibeliin mainan. Dia juga belum mandi sore tuh. Disuruh mandi, ngga mau.
Maunya nungguin Ayah pulang”, tiba-tiba Bunda menghampiri mereka berdua.
“Oh, jadi anak Ayah ini
belum mandi? Pantesan bau asem.. hehe. Sheila dengerin Ayah ya. Sheila harus
nurut sama Ayah dan Bunda, Sheila ga boleh nakal, jangan ngamuk-ngamuk minta
dibelikan mainan terus. Nanti kalau Sheila nurut sama Ayah dan Bunda, Ayah pasti
belikan mainan buat Sheila. Kalau Ayah pergi, Sheila jagain Bunda ya, bantuin Bunda
di warung. Sekarang Sheila mandi gih
sana, ikut Bunda pulang kerumah. Warungnya biar Ayah yang jagain” kata ayahnya
Sheila.
“Siap, komandan. Hehe..
Sekarang Sheila mau mandi deh. dadah Ayaaah..”, Sheila berlalu sambil
melambaikan tangannya.
Sheila dan Bunda pun pulang
kerumah. Itulah hari terakhir Sheila bisa bercanda dengan Ayahnya.
Kini, betapa
merindunya Sheila akan sosok itu, sosok yang terakhir kali ia temui 16 tahun
yang lalu. Tak terasa, air mata Sheila
pun menetes. Buru-buru Sheila mengusap pipnya yang basah.
Sheila selalu ingat Ayahnya
ketika ia mempunyai masalah atau merasa kesepian. Seperti saat ini, Sheila sedang merasa
kesepian. ia baru saja berangkat dari rumah kakaknya menuju Bandung.
terharu lul baca kisahnya...
ReplyDeleteditunggu kisah selanjutnya :D