Menu

Tuesday, November 18, 2014

SHEILA

* Ayah *

Sore itu, dibawah naungan langit mendung, di dalam bis kota tujuan Bekasi-Bandung, seorang perempuan muda tengah duduk termenung. Perempuan itu bernama Sheila. Usianya baru 21 tahun, seminggu yang lalu ia baru saja resmi mengakhiri statusnya sebagai mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri ternama di Bandung. Sepanjang perjalanan menuju Bandung, ia terus saja memandang keluar jendela, matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan dirinya agar tidak menangis saat itu.  Hatinya pilu, pikirannya menerawang ke masa-masa yang lalu.
Hari itu, ditengah lapangan, wajah-wajah ceria dan gelak tawa dari bocah-bocah  lugu memenuhi udara. Anak-anak itu tengah asik bermain kejar-kejaran dan mengitari lapangan dengan sepeda mereka. Semuanya terlihat sangat bahagia. Begitupun dengan gadis kecil yang tengah duduk dipinggir lapangan bersama seorang temannya. Karena tidak memiliki sepeda, kedua gadis kecil tersebut hanya bisa menyaksikan teman-temannya bermain sepeda. Meskipun demikian, keduanya terlihat amat bahagia. Sambil meniup gelembung sabun, mereka menyoraki teman-temannya yang sedang bermain sepeda. Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya yang memiliki jenggot tebal menghampiri salah satu dari mereka. Lelaki itu berbisik pada sang gadis cilik, “Sheila mau sepeda ga?”.
Gadis kecil yang baru berusia 5 tahun itu terperanjat, lalu ia menjawab sambil mengusap-usap pipinya, ”Aduuh, Aayaaah...kebiasaan deh suka bisik-bisik. Geli tau, Yah. Jenggot Ayah tuh kena pipi Sheila”.
Lelaki itupun tertawa,” Hahaha,,, jadi Sheila mau sepeda atau ngga nih?”
“Mmm,,mau, mau, mau, mau banget, Yah. Emang Ayah mau beliin buat Sheila? Kapan Yah?”
“Kalau sekarang gimana? Mau? Yuk..!!”
Yeeeeh.. mau dong, Yah. Ayoo kita kemon..!”, Sheila kecil pun melompat kegirangan.
Eh, tunggu dulu, temen kamu, Lia, gimana? Kan kalian lagi main bareng?”.
“Oh iya, Yah. Sheila lupa. Hehe.. Kalau Lia ikut kita beli sepeda boleh ngga, Yah?”.
“Boleh, Tapi Lia mau ikut atau ngga?” tanya Ayah Sheila kepada gadis cilik disamping Sheila.
“Hmm.. Lia disini saja, Om. Masih mau lihat teman-teman main sepeda” gadis itu pun menjawab sambil tersenyum.
Akhirnya, Sheila dan Ayahnya membeli sepeda. Sepeda pertama yang Sheila miliki adalah sepeda roda tiga pemberian ayahnya pada hari itu.



Meskipun Sheila hanya bisa mengenal Ayahnya hingga usianya 5 tahun saja, namun kenangan masa kecilnya bersama sang Ayah tidak akan pernah dilupakan oleh Sheila. Pada saat itu, Sheila dan keluarganya tinggal di sebuah kampung di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Mereka adalah keluarga yang sederhana. Keluarga Sheila memiliki warung kecil di dekat rumahnya. Setiap hari, Ayah dan Ibu Sheila bergantian menjaga warung tersebut. Selain warung, keluarga Sheila juga memiliki beberapa petak sawah. Sesekali Ayah Sheila juga pergi ke sawah untuk mengurusi sawahnya.
Sosok sang Ayah dimata Sheila merupakan sosok yang sangat luar biasa. Selain berdagang dan bertani, Ayah Sheila juga menjadi guru ngaji di kampung tersebut. Mulai dari pegajian Ibu-ibu hingga pengajian anak-anak. Pengajian ibu-ibu biasanya diadakan pada hari minggu pagi di majelis ta’lim terdekat, sementara pengajian anak-anak diadakan setiap hari dan biasanya dimulai setelah sholat maghrib. Ayah Sheila dikenal sebagai sosok yang humoris, suka bercanda, tapi ia juga bisa menjadi seseorang yang sangat serius dan tegas (galak), terutama terkait masalah agama. Misalnya saja jika kakaknya Sheila tidak mau sholat atau mengaji, Ayah akan mengurung kakaknya Sheila di gudang belakang rumah sampai kakak kapok dan berjanji untuk rajin sholat dan mengaji.
Sheila memiliki 3 saudara perempuan. Dua diantaranya sedang menuntut ilmu disebuah pesantren di kabupaten Bekasi. Sementara saudara Sheila yang lainnya masih kelas 6 SD. Sheila pada saat itu masih berusia 5 tahun. Waktu kecil, Sheila adalah anak yang sangat manja. Ia sering minta dibelikan mainan yang baru dilihatnya di iklan televisi. Jika keinginannya tidak dituruti, Sheila bisa mengamuk tidak terkendali (menangis sejadi-jadinya). Pada saat itulah Ayah Sheila berubah menjadi sosok yang sangat galak. Ia akan membawa Sheila ke kamar mandi lalu menyiramkan seember air keatas kepala Sheila hingga membasahi seluruh badannya. Setelah disiram air, biasanya Sheila berhenti menangis. Mekipun demikian, Sheila sangat bangga dengan Ayahnya. Ayah seringkali memberikan kejutan untuk Sheila, salah satunya sepeda roda tiga tadi.

Kenangan-kenangan masa kecil terus saja melintas dibenak Sheila.

Saat itu, didepan warung milik keluarganya, Sheila kecil tengah menunggu sang ayah pulang. Sambil duduk dibawah pohon jambu, Sheila terus mengarahkan pandangannya ke jalan kecil yang ada didepannya. Dari jalan itulah sosok yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul. Sheila kecil menyambut ayahnya dengan senyuman lebar. Sang Ayah menghampiri Sheila lalu mencium pipi Sheila.
“Tuh kan Ayah, lagi-lagi jenggot Ayah bikin Sheila geli”, Sheila mengusap-usap pipinya yang dicium Ayah.
Ayahnya tersenyum, “Sheila sedang apa disini? Ko’ sendirian aja? Bunda mana?”
“Iiih, Aaayaah, Sheila kan lagi nungguin Ayah pulang. Bunda ada di warung, Yah. Itu..” sambil menunjuk ke arah warung.
“Oh, kirain hari ini warungnya tutup. Ini ada oleh-oleh buat Sheila”, Ayah memberikan bingkisan kepada Sheila.
“Wah, apa ini Yah? Ayah darimana sih? Ko’ pagi-pagi Ayah udah pergi terus sekarang pulangnya sore-sore? ga pamit dulu sama Sheila lagi !” tanya Sheila, sambil sibuk membuka bingkisan dari Ayahnya.
Ayah mengelus kepala Sheila, “Ayah habis dari Bekasi, menengok kakak Sheila yang sedang sekolah sambil pesantren disana. Karena Bekasi itu jauh, jadi Ayah berangkatnya pagi-pagi dan baru pulang sekarang. Tadi pagi kan Sheila masih tidur. Ayah ga mau bangunin Sheila, jadi Ayah ga pamitan dulu ke Sheila deh..”
“Hmm,,yaudah gapapa, Yah, yang penting Ayah bawa oleh-oleh buat Sheila. Hehehe...”
“Huuu.. dasar anak Ayah. Oleh-olehnya jangan dulu dikasih ke Sheila, Yah. Tadi siang dia nangis lagi minta dibeliin mainan. Dia juga belum mandi sore tuh. Disuruh mandi, ngga mau. Maunya nungguin Ayah pulang”, tiba-tiba Bunda menghampiri mereka berdua.
“Oh, jadi anak Ayah ini belum mandi? Pantesan bau asem.. hehe. Sheila dengerin Ayah ya. Sheila harus nurut sama Ayah dan Bunda, Sheila ga boleh nakal, jangan ngamuk-ngamuk minta dibelikan mainan terus. Nanti kalau Sheila nurut sama Ayah dan Bunda, Ayah pasti belikan mainan buat Sheila. Kalau Ayah pergi, Sheila jagain Bunda ya, bantuin Bunda di warung. Sekarang Sheila mandi gih sana, ikut Bunda pulang kerumah. Warungnya biar Ayah yang jagain” kata ayahnya Sheila.
“Siap, komandan. Hehe.. Sekarang Sheila mau mandi deh. dadah Ayaaah..”, Sheila berlalu sambil melambaikan tangannya.
Sheila dan Bunda pun pulang kerumah. Itulah hari terakhir Sheila bisa bercanda dengan Ayahnya.
Kini, betapa merindunya Sheila akan sosok itu, sosok yang terakhir kali ia temui 16 tahun yang lalu.  Tak terasa, air mata Sheila pun menetes. Buru-buru Sheila mengusap pipnya yang basah.

Sheila selalu ingat Ayahnya ketika ia mempunyai masalah atau merasa kesepian.  Seperti saat ini, Sheila sedang merasa kesepian. ia baru saja berangkat dari rumah kakaknya menuju Bandung.

1 comment:

  1. terharu lul baca kisahnya...
    ditunggu kisah selanjutnya :D

    ReplyDelete